Selasa, 28 Februari 2023

 

Contoh Struktur Modul Pelatihan

Struktur Modul Pelatihan

Modul pelatihan adalah satu unit program pembelajaran terencana yang didesain guna membantu peserta mencapai tujuan pelatihan. Modul merupakan model pembelajaran yang menerapkan pendekatan sistem atau teknologi intruksional.

Setiap modul pelatihan disusun mengikuti alur dan struktur yang sama, mulai dari rasional sampai refleksi, agar fasilitator pelatihan memahami struktur modul pelatihan untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang bagaimana pengertian, tujuan, dan cara-cara yang perlu dilakukan untuk melaksanakan modul pelatihan.

Struktur Modul Pelatihan

Meskipun tidak ada struktur model pelatihan yang baku, namun setidaknya memuat 9 struktur, antara lain: rasional, tujuan, alokasi waktu, metode, materi, peralatan dan media,  langkah-langkah, evaluasi dan refleksi.

Adapun penjelasan dari masing-masing struktur modul itu adalah sebagai berikut

1. Rasional

Rasional merupakan penjelasan tentang mengapa modul yang sedang dibahas itu penting, relevan dan memiliki kaitan dengan tema tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Rasional menjadi landasan pemikiran yang membantu fasilitator memahami relevansi pelatihan sesuai dengan tema yang dibahas.

Rasional merupakan petunjuk arah bagi fasilitator agar peserta dapat menangkap makna tiap modul. Tahap berikutnya fasilitator memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan selama melakukan proses fasilitasi dan pelatihan. Fasilitator bisa mengarahkan peserta untuk membuat rencana tindak lanjut setiap kali setelah menyelesaikan materi pelatihan. Skema pelatihan bisa digambarkan sebagai berikut: Pembukaan Materi Inti Penutupan (Evaluasi, Refleksi, Rencana Aksi)

2. Tujuan

Tujuan merupakan hal-hal yang ingin dicapai selama peserta menjalankan pelatihan dalam modul tertentu.

3. Alokasi waktu

Waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan satu modul kegiatan.

4. Metode

Cara-cara yang digunakan untuk melatihkan modul agar tujuan tercapai.

5. Materi

Berisi penjelasan lebih detail tentang gagasan utama dalam modul yang perlu diperhatikan oleh fasilitator agar penyampaian materi tema modul dapat dipahami peserta dengan baik. Materi merupakan uraian ringkas tentang isi atau butir-butir penting pelatihan sehingga fasilitator dapat menangkap hal-hal penting berupa kata kunci yang perlu diperhatikan selama melaksanakan sebuah pelatihan modul. Materi juga merupakan rujukan bahan, berupa tulisan, video, atau multimedia, yang dipergunakan dalam pokok pembahasan sebuah modul.

6. Peralatan dan Media

Hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh fasilitator agar semua pelatihan dapat berjalan dengan baik.

7. Langkah-Langkah

Hal-hal yang perlu dilakukan oleh fasilitator setahap demi setahap untuk melatihkan sebuah modul.

8. Evaluasi

Sebuah penilaian untuk mengetahui apakah tujuan pembelajaran di dalam modul tercapai dan mengetahui sejauh mana tingkat ketercapaiannya.

9. Refleksi

Refleksi menghadapkan peserta pelatihan dengan pengalamannya sendiri untuk menyadari dimensi nilai yang ditangkap oleh peserta setelah mengikuti modul pelatihan tertentu. Refleksi adalah hal-hal berharga yang diperoleh peserta mengenai pentingnya PPK. Kemampuan menangkap nilai ini akan memperkaya pemahaman dan mengubah praksis hidup seseorang.

Contoh Modul Pelatihan

MODUL: PPK Berbasis Budaya Sekolah

1. Rasional

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah memotret berbagai macam bentuk pembiasaan, model tata kelola sekolah, termasuk di dalamnya pengembangan peraturan dan regulasi yang mendukung PPK. Proses pembudayaan menjadi sangat penting dalam penguatan pendidikan karakter karena dapat memberikan atau membangun nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Budaya sekolah yang baik diharapkan dapat mengubah perilaku peserta didik menjadi lebih baik… dst

2. Tujuan

Setelah mengikuti sesi dalam modul ini peserta dapat:

  1. memahami dan menyadari pentingnya PPK dalam membangun budaya sekolah;
  2. mengidentifikasi strategi membangun budaya sekolah;
  3. dst

3. Alokasi Waktu

Waktu : 135 menit (3 x 45 menit)

4. Metode

Eksplorasi aktivitas, dinamika kelompok, ice breaking, ceramah, simulasi, diskusi, tanya jawab, dan kunjungan kerja.

5. Materi

  1. Pengertian budaya sekolah,
  2. Strategi membangun budaya sekolah,
  3. Konsep gerakan literasi dan strategi mewujudkan budaya literasi,
  4. dst

6. Peralatan dan Media

Buku-buku bacaan nonpelajaran untuk tingkat SD dan SMP, LCD, slide ppt, Flip chart, spidol, post it, lakban/tape, kertas hvs.

7. Langkah-Langkah

NomorKegiatanWaktu
 Kegiatan awal (15 menit) 
1Perkenalan dilakukan dengan menyampaikan secara umum tentang latar belakang fasilitator dan peserta pelatihan5’
2Dst… 
 Kegiatan Inti (110 menit) 
3Penjelasan apa yang dimaksud dengan budaya sekolah dan komponennya. Fasilitator mengajak peserta berbagi tentang budaya, tradisi dan pembiasaan yang ada di sekolah mereka yang mendukung PPK. Penjelasan tentang praktik pembiasaan usahakan seimbang antara nilai-nilai utama PPK, sehingga masing-masing nilai memiliki contoh15’
4Dst… 
 Kegiatan Penutup (10 menit) 
5Refleksi tentang membangun budaya sekolah melalui kegiatan: membaca 15 menit, ekstrakurikuler, dan menetapkan aturan/tata tertib sekolah. Apa yang akan Anda lakukan bila kembali ke sekolah masingmasing?10’
Jumlah135’

8. Evaluasi

Fasilitator menilai keberhasilan pelatihan dengan model tanya jawab, bagaimana menumbuhkan pembiasaan-pembiasaan dan tradisi baik di lingkungan sekolah, pemilihan kegaitan ekstrakurikuler yang tepat, dan bagaimana mengevaluasi peraturan dan tata tertib di sekolah?

9. Refleksi

Untuk menilai apakah peserta mampu merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam pelatihan sesi ini, fasilitator bisa bertanya tentang hal-hal yang akan dilakukan peserta pelatihan bila mereka kembali ke tempat bertugas masing-masing.

Kamis, 02 Februari 2023

 Pesona Alam Desa


Terpana pada hamparan hijau

Luas membentang

Terperosok pada suara gemericik air

Laksana musik bersahutan

Terlena pada nuansa manja ilalang

Menari, tidak mau ketinggalan

Ku tertahan pada aroma rumput ini, harum 

Ku tau inilah ciptaan Tuhan 

Patut di nikmati, niscaya di syukuri


Jauh di ufuk kehijauan

Pohon - pohon melambai 

Rumput nan hijau kegirangan

Menyambut setiap mata yang memandang

Kesuburan, yang terikat pada keindahan tanaman liar yang kecoklatan

Irama kaki anak-anak yang berlarian

Menambah keseruan perjalanan


Sepasang aksa siap meraih

Sentuhan halus jemari yang lembut

Siap mengabadikan momen berkesannya

Siap menjadikan momen indah untuk dikenang

Sebagai anugerah ciptaan Tuhan yang terindah

Jumat, 21 Januari 2022

KURIKULUM PROTOTIPE 2022


  1. Pengertian Kurikulum Prototipe

Di Indonesia sendiri ada beberapa kurikulum yang pernah diterapkan dalam dunia pendidikan, diantaranya adalah kurikulum 1947, kurikulum 1994, kurikulum 2006, hingga kurikulum 2006.Namun apakah sebenarnya kurikulum itu?Istilah kurikulum berasal dari bahasa Latin “curir” yang berarti palri dan “curere” yang berarti tempat berpacu. Sehingga kurikulum dapat diartikan sebagai trek atau lajur yang harus diikuti seseorang untuk mencapai tujuannya. Pengertian kurikulum juga tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 19 yaitu: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”

Kurikulum prototipe merupakan kurikulum pilihan (opsi) yang dapat diterapkan satuan pendidikan mulai tahun ajaran (TA) 2022/2023.Kurikulum prototipe melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya (kurtilas). Jika melihat dari kebijakan yang akan diambil para pemangku kebijakan, nantinya sebelum kurikulum nasional dievaluasi tahun 2024, satuan pendidikan diberikan beberapa pilihan kurikulum untuk diterapkan di sekolah.

Kurikulum prototipe diberikan sebagai opsi tambahan bagi satuan pendidikan untuk melakukan pemulihan pembelajaran selama 2022-2024. Kebijakan kurikulum nasional akan dikaji ulang pada 2024 berdasarkan evaluasi selama masa pemulihan pembelajaran.

Kurikulum prototipe melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya yaitu:

  1. Orientasi holistik: kurikulum dirancang untuk mengembangkan murid secara holistik, mencakup kecakapan akademis dan nonakademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual.

  2. Berbasis kompetensi, bukan konten: kurikulum dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu.

  3. Kontekstualisasi dan personalisasi: kurikulum dirancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan peserta didik.

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merancang kurikulum prototipe ini agar dapat mendorong pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa.Kurikulum ini diharapkan dapat memberi ruang lebih luas pada pengembangan karakter dan kompetensi dasar.

Kurikulum prototipe memiliki beberapa karakteristik utama yang mendukung pemulihan pembelajaran. Berikut ini karakteristik utama dari kurikulum prototipe ini :

  1. Pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan soft skills dan karakter (iman, taqwa, dan akhlak mulia; gotong royong; kebhinekaan global; kemandirian; nalar kritis; kreativitas).

  2. Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.

  3. Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.

Berikut ini adalah karakteristik Kurikulum Prototipe di setiap jenjang satuan pendidikan.

  1. Karakteristik Kurikulum Prototipe di PAUD

  1. Kegiatan bermain sebagai proses belajar yang utama.

  2. Penguatan literasi dini dan penanaman karakter melalui     kegiatan bermain-belajar  berbasis buku bacaan anak.

c. Fase Pondasi untuk meningkatkan kesiapan bersekolah.

d. Pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan melalui kegiatan perayaan hari  besar dan perayaan tradisi lokal.

2.  Karakteristik Kurikulum Prototipe di SD

a. Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistik:

  • Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS),

  • Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPAS.

  • Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan.

b. Pembelajaran berbasis proyek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 2 kali dalam satu tahun ajaran

3. Karakteristik Kurikulum Prototipe di SMP

a. Penyesuaian dengan perkembangan teknologi digital, mata pelajaran Informatika menjadi mata pelajaran wajib.

b. Panduan untuk guru Informatika disiapkan untuk membantu guru-guru pemula, sehingga guru mata pelajaran tidak harus  berlatar belakang pendidikan informatika.

c. Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3 kali dalam satu tahun ajaran.

4. Karakteristik Kurikulum Prototipe di SMA

  1. Lebih fleksibel untuk disesuaikan dengan minat peserta didik, karena pilihan pada level mata pelajaran (bukan program peminatan/ penjurusan).

  2. Di kelas 10 pelajar menyiapkan diri untuk menentukan pilihan mata pelajaran di kelas 11. Mata pelajaran yang dipelajari serupa dengan di SMP.

  3. Di kelas 11 dan 12 pelajar mengikuti mata pelajaran dari Kelompok Mapel Wajib, dan memilih mata pelajaran dari kelompok MIPA, IPS, Bahasa, dan Keterampilan Vokasi sesuai minat, bakat,  dan aspirasinya.

  4. Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 3 kali dalam satu tahun ajaran, dan pelajar menulis esai ilmiah  sebagai syarat kelulusan.

5. Karakteristik Kurikulum Prototipe di SMK

  1. Dunia kerja dapat terlibat dalam pengembangan pembelajaran.

  2. Struktur lebih sederhana dengan dua kelompok mata pelajaran, yaitu Umum dan Kejuruan. Persentase kelompok kejuruan meningkat dari 60% ke 70%.

  3. Penerapan pembelajaran berbasis  proyek dengan mengintegrasikan mata pelajaran terkait.

  4. Praktek Kerja Lapangan (PKL) menjadi mata pelajaran wajib minimal 6 bulan (1 semester).

  5. Pelajar dapat memilih mata pelajaran di luar program keahliannya.

  6. Alokasi waktu khusus projek penguatan  profil pelajar Pancasila dan Budaya  Kerja untuk peningkatan soft skill (karakter dari dunia kerja).

6. Karakteristik Kurikulum Prototipe di SLB

  1. Capaian pembelajaran pendidikan khusus dibuat hanya untuk yang memiliki hambatan intelektual.

  2. Untuk pelajar di SLB yang tidak memiliki hambatan intelektual, capaian pembelajarannya sama dengan sekolah reguler yang sederajat, dengan menerapkan prinsip modifikasi kurikulum

  3. Sama dengan pelajar di sekolah reguler, pelajar di SLB juga menerapkan pembelajaran berbasis proyek untuk menguatkan Pelajar Pancasila dengan mengusung tema yang sama dengan sekolah reguler, dengan kedalaman materi dan aktivitas sesuai dengan karakteristik  dan kebutuhan pelajar di SLB

  1. Strategi Pengembangan Kurikulum Prototipe

  1. Fokus kepada pelatihan Sumber Daya Manusia.

  2. Meningkatkan kapasitas guru dan tenaga kependidikan dalam menerapkan kurikulum prototipe.

  3. Mempercepat peningkatan kapasitas guru dan tenaga kependidikan secara masif agar siap menerapkan kurikulum prototipe.

  4. Mengembangkan komunitas belajar. Komunitas belajar dapat terdiri dari guru, KS, PS dari Sekolah Penggerak atau Guru Penggerak. Komunitas belajar ini memfasilitasi berbagi praktik baik penerapan kurikulum prototype. 

  5. Adopsi kurikulum dapat dilakukan secara bertahap (learning journey).

Penerapan kurikulum prototipe dilakukan melalui tahapan berdasarkan kapasitas dan penetapan target oleh satuan pendidikan.

Tahap 1  Kompleksitas Sederhana

Mengikuti contoh yang telah disediakan/dilatihkan

Tahap 2 Kompleksitas Dasar

Melakukan modifikasi mengacu contoh yang disediakan/dilatihkan.

Tahap 3 Kompleksitas Sedang

Melakukan pengembangan sesuai konteks satuan pendidikan dengan pelibatan warga sekolah dan masyarakat secara terbatas.

Tahap 4 Kompleksitas Tinggi

Melakukan pengembangan sesuai konteks satuan pendidikan dengan pelibatan warga sekolah secara luas.

  1. Perbedaan Kurikulum 2022 2013

Ada beberapa perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum 2022 (Prototipe) antara lain

  1. Untuk level TK

Pendekatan pembelajaran yang awalnya berbasis tema pada Kurikulum 2013, berubah menjadi fokus literasi (buku yang digemari anak-anak)padaKur.2022(Prototipe)

  1. Untuklevel SD

Pelajaran IPA dan IPS yang awalnya dipisah pada kurikulum 2013,dirubah untuk digabung menjadi IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial) pada kurikulum Prototipe,sebagai fondasi sebelum anak belajar IPA dan IPS terpisah di jenjang SMP

  1. Untuk Level SMP

Pembelajaran Informatika pada kurikulum 2013 menjadi Mata pelajaran (mapel) pilihan, sementara di kurikulum 2022 mapel informatika sebagai mata pelajaran wajib.

  1. UntuklevelSMA

Di Kurikulum 2013 siswa SMA masuk langsung memilih penjurusan sementara di Kurikulum 2022 siswa mengambil dan menentukan peminatan pada kelas 11, karena perlu berkonsultasi dengan guru BK, wali kelas,dan orangtua.

  1. Konsekuensi Implementasi Kurikulum di Sekolah

Perubahan kurikulum dirasakan oleh pengelola sekolah seperti perubahan menteri, setiap ada presiden baru yang menunjuk menteri baru,  maka dipastikan ada perubahan kurikulum baru. Hal ini sudah ma'lum yang penting bagi sekolah adalah kejelasan apa yang harus dilakukan guru ketika memang terjadi perubahan dari kurikulum 2013 menjadi kurikulum 2022 (prototipe) ini. Jika dilihat pemaparan Kemendikbud maka ada dua kewenangan dalam kurikulum ini yaitu kewenangan Pemerintah pusat yaitu:

  1. Membuat struktur kurikulum 

  2. Merumuskan Profil Pelajar Pancasila

  3. Merancang capaian pembelajaran

  4. Memformulasikan prinsip pembelajaran dan asesmen.

Sementara sekolah satuan pendidikan memiliki kewenangan untuk menyusun visi, misi, dan tujuan sekolah, kebijakan sekolah terkait kurikulum, pembelajaran, dan asesmen yang memfokuskan pada implementasi baik dalam budaya sekolah maupun KBM dalam mewujudkan pelajar Pancasila.

Dengan demikian tugas pengelola sekolah hanya satu yang diamanahkan oleh Kurikulum Prototipe (2022) ini yaitu melakukan analisa dan menyusun Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan dengan focus pada menumbuhkan karakter pelajar pancasila, yang dalam bahasa Kurikulum 2013 disebut menyusun KTSP (buku 1,2, dan 3). Pembuatan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan ini meliputi:

  1. Analisis konteks satuan pendidikan

  2. Merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah

  3. Pengorganisasian pembelajaran

  4. Rencana Pembelajaran

  5. Pendampingan evaluasi dan pengembangan professional, dan tentu lampiran-lampiran yang dibutuhkan. 

Pastikan dalam merumuskan kurikulum operasional sekolah, harus memfokuskan pada implementasi baik dalam bentuk budaya sekolah maupun KBM untuk mewujudkan Pelajar Pancasila yang meliputi 6 hal, yaitu:

  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan ke dalam akhlak yang mulia, baik dalam beragama, akhlak yang baik kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, kepada alam dan kepada Negara Indonesia.

  2. Berkebhinekaan global, yang untuk mencapai dengan menjadi pelajar Indonesia yang mengenal dan menghargai budaya, dapat berkomunikasi dan berinteraksi antar budaya, berefleksi dan bertanggung jawab terhadap pengamalan kebhinekaan serta berkeadilan sosial.

  3. Mandiri, di mana pelajar Indonesia perlu memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta memiliki regulasi diri.

  4. Bergotong-royong, yang untuk mewujudkan nya dengan melakukan kolaborasi, memiliki kepedulian yang tinggi dan berbagi dengan sesama. 

  5. Bernalar kritis, cirinya pelajar Indonesia perlu memperoleh dan memproses informasi serta gagasan dengan baik, lalu menganalisa dan mengevaluasinya, kemudian merefleksikan pemikiran dan proses berpikirnya.

  6. Kreatif, adalah pelajar yang bisa menghasilkan gagasan, karya dan tindakan yang orisinil, memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan.

  1. Paradigma Guru Dalam Menerapkan Kurikulum Prototipe

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa “pendidikan berhamba pada anak” atau juga bisa disebut pendidikan yang berpihak pada peserta didik. Dengan demikian proses pendidikan harus difokuskan pada anak didik, bukan fasilitas, keinginan pimpinan lembaga bahkan bukan juga kurikulum. Maka pendidikan menuntut menurut Ki Hajar Dewantara,“menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat”.Dengan demikian guru harus memperhatikan capaian tingkat kemampuan kebutuhan peserta didik sebagai acuan untuk merancang pembelajaran, yang intinya pembelajaran harus berpusat pada peserta didik.

Teaching At The Right Level (TaRL)

Pengajaran dengan menggunakan pendekatan TaRL adalah mengatur peserta didik tidak terikat pada tingkatan kelas. Namun dikelompokkan berdasarkan fase perkembangan ataupun sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik yang sama. Sehingga acuannya pada capaian pembelajaran, namun disesuaikan dengan karakteristik, potensi, kebutuhan peserta didiknya.

Demikianpun dengan hasil belajarnya, juga ditentukan oleh berdasarkan evaluasi pembelajaran sesuai dengan fase/levelnya.

Peserta didik yang belum mencapai capaian pembelajaran dan fasenya, akan mendapatkan pendampingan oleh pendidik untuk bisa mencapai capaian pembelajarannya.

Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa tahapan sebagai berikut:

  1. Tahapan Asesmen

Yaitu dengan mengenali potensi, karakteristik, kebutuhan, tahap perkembangan peserta didik

  1. Tahapan Perencanaan

Yaitu menyusun proses pembelajaran yang sesuai dengan data asesmen, termasuk pengelompokkan peserta didik dalam tingkat yang sama dan juga menyusun pembelajaran yang sesuai dengan capaian atau pun tingkat kemampuan peserta didik yang merupakan pusat utama pembelajaran

  1. Tahapan Pembelajaran

Selama proses pembelajaran ini, perlu dibuat adanya asesmen-asesmen berkala untuk melihat proses pemahaman murid, kebutuhan, kemajuan selama pembelajaran dan juga melakukan proses evaluasi ketercapaian tujuan pembelajaran di akhir suatu pembelajaran, biasanya dalam bentuk projek.


Pembelajaran Projek

Pembelajaran Projek ini juga dikenal PBL (Project Based Learning) yang merupakan pemberian tugas kepada siswa yang harus diselesaikan dalam periode dan waktu tertentu mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan & penyerahan produk.

Beberapa untuk model produk dari PBL, dapat dikelompokan dalam tiga model yaitu

  1. Produk Karya Teknologi yang salah satu bentuknya membuat animasi atau video

  2. Produk Karya Tulis, seperti membuat laporan hasil pengamatan

  3. Produk Prakarya contohnya membuat miniatur rumah dari barang bekas.

Untuk proses evaluasi, juga bisa dilakukan dengan tiga model penilaian yaitu Assessment of Learning, Assessment for Learning dan Assessment As Learning.


Kurikulum Prototipe (2022)

Dalam mensukseskan implementasi Kurikulum 2022 ini ada dua hal yang perlu dipastikan keterlaksanaannya yaitu:

  1. Apa yang harus dilakukan sekolah? Dimana sekolah mampu dengan baik membuat kurikulum operasional satuan pembelajaran.

  2. Apa yang harus dikuasai guru? Yaitu mau berubah dengan paradigma baru dan menguasai minimal dua model pembelajaran yaitu Project Based Learning (PBL) dan Teaching at the Right Level (TaRL)

Semoga tulisan yang sederhana ini dapat memberikan gambaran yang umum dan singkat tentang kurikulum 2022 (Prototipe).


Langkah Kecil Menuju Hebat

  Impian dan Cita-cita Menjadi Dokter Oleh : Nurul Suhartini   Di suatu sore, sepulang dari mengaji, Nashwa duduk termenung di teras r...