Sabtu, 22 Mei 2021

Modul 3 Pendidikan Guru Penggerak

3.1.a.8 Koneksi Antar Materi

Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 


Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar

Assalamualaikum Warohatullohi Wabarokatuh

Salam dan Bahagia Sahabat Merdeka Belajar 

    Saya adalah salah satu guru di SDN 2 Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, NTB. Pada bulan September tahun 2020 lalu saya lulus pada penjaringan tes Calon Guru Penggerak melalui berbagai tes. Sebelum masuk di Pendidikan Guru Penggerak ini sebagai seorang guru saya belum memahami Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD). Namun saya sudah sering mendengar kata-kata budi pekerti, ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani yang menjadi jiwa dari pendidikan nasional. Saya berpikir pendidikan hanya berorientasi pada nilai akhir sehingga mengabaikan aspek penilaian afektif dan psikomotorik, sehingga sering terjadi keluhan dari para orang tua akan kurangnya sopan santun dari para siswa. Namun setelah mempelajari  modul 1.1 tentang filosofi pendidikan KHD saya mendapatkan intisari dari pemikiran KHD tentang pendidikan. 

    Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding)memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Jadi menurut KHD (2009), “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.

    Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan. Proses pembelajaran yang mencerminkan pemikiran KHD adalah memberikan ruang seluas luasnya kepada peserta didik untuk melakukan proses pembelajaran dengan tetap mengutamakann norma- norma dan peraturan yang berlaku. Agar proses pembelajaran mencerminkan pemikiran KHD adalah salah satunya dengan mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid, yaitu pembelajaran yang menyenangkan mulai dari suasananya, membuat kesepakatan kelas disini murid bebas berpendapat, sesuai kebutuhan belajar murid, menggali dan memotivasi setiap potensi murid, membuat praktek baik, membangkitkan semangat belajar murid, tidak selalu mengikuti keinginan guru.

  Menurut Sardiman (1992), peran guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai informator, organisator, motivator, pengarah, inisiator, transmiter, fasilitator, mediator, dan evaluator. Sedangkan Pullias dan Young, Manan, Yelon dan Weinstein seperti yang dikutip oleh E. Mulyasa (2007), mengatakan bahwa peran guru dalam proses pembelajaran adalah sebagai Pendidik, Pengajar, Pembimbing, Pelatih, Penasehat, Pembaharu (Inovator), Model dan Teladan, Pribadi, Peneliti, Pendorong Kretivitas, Pembangkit Pandangan, Pekerja Rutin, Pemindah Kemah, Pembawa Cerita, Aktor, Emansipator, Emansipator, Pengawet, dan sebagai Kulminaor. Berikut akan dibahasperan-peran guru tersebut.

    Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, Sahabat Merdeka Belajar pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana Sahabat diharuskan mengambil suatu keputusan. Namun, seberapa sering keputusan tersebut melibatkan kepentingan dari masing-masing pihak yang sama-sama benar, tapi saling bertentangan satu dengan yang lain?

     Keberhasilan seorang pemimpin dalam mengemban salah satu tugas tersulit, yaitu mengambil suatu keputusan yang efektif. Keputusan-keputusan ini, secara langsung atau tidak langsung bisa menentukan arah dan tujuan institusi atau lembaga yang dipimpin. Berikut ini merupakan ulasan materi Modul 3.1 Pendidikan Guru Penggerak terkait pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. 

    Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka yang memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran yang pernah dipelajarai oleh CGP pada Modul 1.1 adalah :


        Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: "menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat  menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan  tumbuhnya kekuatan kodrat anak”

    Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani.  Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta ‘tangan dingin’ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.

    Dalam proses ‘menuntun’ anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang ‘pamong’ dapat memberikan ‘tuntunan’ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

    KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan ‘barang-barang’ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.

    Pada Modul 2 Pendidikan Guru Penggerak, CGP mempelajari materi 3.1 tentang pembelajaran berdiferensiasi, yaitu bagaimana seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat memenuhi kebutuhan belajar murid. 3.2 tentang pembelajaran sosial dan emosional, yaitu bagaiman seorang guru dapat mengolah emosinya dan mengolah suasana pembelajaran di kelas. 3.3 tentang coaching, yaitu keterampilan coaching membekali seorang guru menjadi pembelajar dan menjadi coach bagi dirinya, bagi murid dan bagi rekan guru yang lain yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil dan melihat berbagai opsi untuk solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik dan tepat.

    Pada Modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, nilai-nilai yang dipelajari tersebut menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan. CGP harus bisa membaca situasi dan kondisi sebelum mengambil keputusan. CGP harus menimbang terlebih dahulu dari segi paradigma yang dilalui dan harus mampu mengambil keputusan berdasarkan solusi yang akan di ambil oleh CGP. CGP harus memikirkan dahulu dengan tahap uji klinis yang ada pada 9 langkah pengambilan keputusan. Pada tahap ini saya merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika dalam pengambilan keputusan berbasis etika, paradigma serta 9 langkah pengambilan keputusan sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih baik dan adil. Proses pengambilan keputusan membutuhkan keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi konsekuensi dan implikasi dari keputusan yang diambil karena tidak ada keputusan yang sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan para pemangku kepentingan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran Jurnal Monolog CGP Angkatan 1 Lombok Timur NTB Assala...