Sabtu, 22 Mei 2021

MODUL 3 PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

                3.1.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI



Salam Sehat dan Bahagia Sahabat Merdeka Belajar.

Bapak Ibu Calon Guru Penggerak!

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang berperan dalam memajukan sumber daya manusia yang di dalam nya terdapat kegiatan proses belajar mengajar yang teratur dan terencana. Agar kegiatan proses belajar mengajar efisien, maka harus ada sosok pemimpin yang mengatur dan mengelola proses tersebut. Pemimpin disini maksudnya guru sebagai pemimpin (manajer) adalah motor penggerak bagi muridnya. Sebagai pemimpin pembelajaran perlu melaksanakan langkah-langkah pengambilan keputusan dalam mengelaborasi metode pembelajaran yang berpihak pada murid. Keputusan yang di ambil guru sebagai pemimpin akan menentukan arah dan tujuan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran akan bermakna bagi murid jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi murid (well being ekosistem pendidikan). Caranya adalah guru dapat menerapkan Sistem Among dalam pembelajaran, merupakan metode yang sesuai untuk pendidikan karena merupakan metode pendidikan yang berdasarkan pada asih asih dan asuh ( care and dedication based on love). Sistem among bersendikan pada dua hal yaitu kodrat alam dan kemerdekaan anak.

Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara pada sistem among yaitu:

1. Ing ngarso sung tulodo, artinya seorang pemimpin (guru) haruslah memberikan tauladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya, ibarat magnet pemimpin harus menarik partikel-partikel disekitarnya untuk bisa diajak bersinergi mencapai sebuah visi sekolah, guru menjadi inspirasi bagi bawahannya.

2. Ing madya mangun karsa, artinya pemimpin (guru) harus bisa bekerjasama dengan orang yang didiknya (murid). Guru mempererat hubungan antara guru dengan murid, namun tidak melnggar etika jalur pendidikan.

3. Tut wuri handayani, yaitu guru sebagai pemimpin berlaku sebagai motivator dalam mendorong kinerja murid untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Sebagai seorang calon guru penggerak ketika menghadapi situasi dilema etika maupun bujukan moral sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Dilema etika merupakan situsi yang terjadi ketika sesorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Bujuk moral adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Disinilah diperlukan nilai guru penggerak. Nilai diri tersebut akan sangat mempengaruhi keputusan yang diambil. Kemauan diri untuk terus belajar secara mandiri berkolaborasi bersama rekan-rekan yang sehati dan selalu mencoba berinovasi untuk menantang kekuatan diri, merenung dan merefleksi setiap langkah yang telah dilewati akan menjadi bekal diri untuk mencapai keberpihakan kepada murid. Pengambilan keputusan yang tepat akan menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman untuk mencapai arah dan tujuan pembelajaran.

Sembilan Langkah Pengambilan Keputusan:

1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial. Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika lagi.  

2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.

3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya.  Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang.

4. Pengujian benar atau salah

o    Uji Legal

Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.

o    Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya,  seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

o    Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini.  Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

o    Uji Halaman Depan Koran

Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika.

o    Uji Panutan/Idola

Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.

Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu:

  • Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.
  • Uji halaman depan koran, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.
  • Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), di mana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain.

Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil risiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral.

5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, identifikasi paradigma mana yang terjadi di situasi ini?

  • Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  • Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  • Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

6. Melakukan Prinsip Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

o    Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

o    Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

o    Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

7. Investigasi Opsi Trilema

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.

8Buat Keputusan

Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Untuk mencapai keputusan yang efektif dapat dilakukan dengan teknik coaching melalui TIRTA. Tehnik coaching akan  menjawab pertanyaan dalam diri untuk memunculkan potensi diri dalam menyelesaikan situasi yang menimbulkan dilema bagi guru sebagai pemimpin pembelajaran. 

Kesulitan yang sering terjadi adalah Ketika kita menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 

  1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term) 

Untuk menyelesaikannya prinsip dalam mengambil keputusan  sebagai guru yang terdiri dari:

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli guru mencoba memberikan kesempatan kepada anak untuk merdeka belajar. Belajar menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dan bermakna di kelas maupun di luar kelas. Membuat setiap momen belajar adalah sebuah permainan yang penuh tantangan. Memberikan kesempatan kepada murid dalam bertanya, mencoba, menghasilkan sebuah karya yang dapat bermanfaat bagi orang lain, meyakinkan murid untuk ikut lomba yang dapat menginspirasi dunia, dengan begitu niscaya bahagialah mereka karena ingin disaat pendidik itu hadir, mereka punya banyak cerita, punya banyak laksana, dan punya sejuta karya.


“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

Mengajarkan berhitung memang membutuhkan waktu, tapi mengajarkan mengerti yang utama dan berharga membutuhkan keteladanan melalui proses dan pembiasaan yang lama dan menjadi budaya

Simpulan

Guru sebagai pengambil keputusan mempunyai peran sentral dalam mengajar dan mendidik anak terutama dari budi pekertinya, budaya positif yang tumbuh di sekolah, kompetensi sosial emosional yang matang yang dapat mendukung guru dalam mengambil keputusan di sekolah, penerapan pembelajaran yang terintegrasi pembelajaran berdiferensiasi membuat guru bisa mengoptimalkan kemampuan murid melalui proses coaching yang tepat.

Salam bahagia sahabat merdeka belajar calon guru penggerak

Guru Penggerak Merdeka Belajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran Jurnal Monolog CGP Angkatan 1 Lombok Timur NTB Assala...